Senin, 29 Oktober 2012

Industri Buku di Indonesia

Diposting oleh Mila Novera di 10/29/2012 09:04:00 PM
Reaksi: 


Buku hadir sebagai pembuka tabir peradaban. Negara maju telah berhasil membuktikannya. Namun dalam proses perjalanannya, industri buku di Indonesia malah semakin tersisih. Eksistensi buku hanya menempati rangking terakhir dalam kebutuhan keluarga di Indonesia. Pepatah tentang “buku gudangnya ilmu dan membaca adalah kuncinya”, seakan tak berarti di negeri ini.

Apa penyebab merosotnya industri buku di Indonesia?
Disinyalir perkembangan daya baca dan daya beli masyarakat Indonesia terhadap buku masih (tetap) saja rendah. Sehingga  “rendahnya minat baca” dan “mahalnya harga buku” sering disebut-sebut sebagai penyebab utama mengapa industri dan tata niaga buku di Indonesia belum juga bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.
Sebagaimana diungkapkan penyair Taufik Ismail, bangsa Indonesia masih rabun membaca dan pincang menulis. Hal ini ia tegaskan setelah melakukan penelitian sederhana kepada siswa SMU di 13 negara. Jika 13 SMU di Amerika Serikat menghabiskan 32 judul buku sastra selama tiga tahun, Jepang dan Swiss 15 buku, siswa SMU di negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan Brunei Darusalam menamatkan membaca 5-7 judul buku sastra, siswa SMU di Indonesia nol buku.
Seirama dengan persoalan rendahnya minat baca masyarakat, menurut Subagya (2005: 10), ada dua pendapat yang berbeda. Pendapat pertama menegaskan, harga buku yang mahal untuk sebagian besar masyarakat (dibandingkan dengan rata-rata pendapatan penduduk) merupakan penyebab utama rendahnya permintaan terhadap buku.
Pendapat yang kedua menyatakan, minat baca masyarakat yang masih rendahlah yang menjadi penyebabnya dan hal itu tidak bisa dipisahkan dari kenyataan bahwa buku belum menjadi salah satu kebutuhan masyarakat kita.
Kondisi itu berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2003 mensinyalir penduduk Indonesia berumur di atas 15 tahun yang membaca koran pada minggu hanya 55,11%. Sedangkan yang membaca majalah atau tabloid hanya 29,22%, buku cerita 16,72%, buku pelajaran sekolah 44,28% dan yang membaca ilmu pengetahuan lainnya hanya 21,07%.

Potret Buram Perbukuan
Dengan merujuk pada kedua asumsi di atas, secara garis besar dapat disimpulkan eksistensi buku dalam anggaran belanja keluarga Indonesia belum termasuk kategori kebutuhan utama. Mengapa demikian? Beberapa kalangan menilai tipikal budaya membaca orang Indonesia sangat unik, banyak orang membaca sewaktu-waktu saja dan hanya sedikit  orang Indonesia yang benar-benar menjadikan media cetak, baik sebagai sarana memperoleh hiburan maupun untuk memperoleh informasi.
Sisi lain, lompatan budaya (tradisi) lisan  juga ikut mempengaruhi kolerasi budaya baca sehingga pada akhirnya mempengaruhi selera beli dan daya beli mereka. Belum lagi surut lompatan budaya lisan, lahirlah budaya audio-visual berupa televisi. Kehadiran televisi di tahun 1970-an serta merta  mendorong tradisi lisan ikut terkontaminasi. Hingga tahun 2010 saat ini terdapat 9.345 program televisi dan 11 jaringan televisi nasional serta 95 televisi lokal yang telah siaran (data Nielsen, Juni 2010).
Kehadiran televisi dalam tataran industri buku, menjadi ancaman terselubung. Bagaimana tidak, perkembangan media visual yang terus melaju melahirkan banyak pilihan dalam hal informasi dan hiburan. Dampaknya, masyarakat pada umumnya menjatuhkan pilihan utama sebagai sarana rekreatif dan informatif pada televisi.
Setelah itu, berturut-turut surat kabar, majalah, baru pada buku. Buku menjadi kebutuhan yang kesekian. Itu pun, masih bersaing dengan media cetak lain yang juga semakin cepat menyajikan informasi dan hiburan. Buku tinggal  mencari ceruk-ceruk lain yang belum terjamah dan belum dimakan habis oleh media cetak lain (Subagya, 2005: 51).
Sehingga Indonesia jika dibandingkan dengan Cina yang berpenduduk 1,3 miliar jiwa mampu menerbitkan 140.000 judul buku baru setiap tahunnya. Vietnam dengan 80 juta jiwa menerbitkan 15.000 judul buku baru per tahun, Malaysia berpenduduk 26 juta jiwa menerbitkan 10.000 judul, sedangkan Indonesia dengan 220 juta jiwa hanya mampu menerbitkan 10.000 judul per tahun.
Kondisi itu terlihat juga dari konsumsi kertas per kapita di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara di dunia. Menurut data PT Kertas Leces (persero, Probolinggo) 1989, mencatat Amerika Serikat mengkonsumsi kertas sebanyak 317.8 kg, disusul Jepang sebanyak 204.5 kg, kemudian Australia 155.5 kg, Singapura 95.0 kg, negara-negara eropa  91,2 kg, Malaysia 25.0 kg, Thailand 17.0 kg, Brunai 12.0 kg, Philipina 9.0 kg, India 8.0 kg, dan Indonesia 5,7 kg.

Pembinaan Perbukuan
Pemerintah menyadari bahwa buku merupakan sumber informasi dan saran pendidikan dalam mencerdakan bangsa, oleh karena itu industri buku dengan komponen-komponennya perlu dikembangkan. Melihat kompleksnya masalah industri buku dan menyangkut berbagai dan lintas sektor seperti pendidikan, perindustrian, perdagangan, dan keuangan, maka melalui Keppres No 5 Tahun 1978, Pemerintah membentuk Badan Pertimbangan dan Pengembangan Buku Nasional  (BPPBN) yang bertugas melakukan berbagai kajian dan merumuskan konsep-konsep kebijakan di bidang perbukuan nasional. Badan ini pulalah yang melakukan kajian perbukuan secara nasional dan mengidentifikasi perlunya Undang-Undang untuk mengatur perbukuan secara nasional. Tahun 1997, BPPBN menyusun draf awal UU tentang perbukuan nasional tetapi tidak ditindak lanjuti sampai Badan ini dibubarkan.
Untuk membina perbukuan di lingkungan pendidikan dan kebudayaan, melalui Keppres No.4 Tahun 1987 dibentuk Pusat Perbukuan di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Di samping berfungsi untuk mengembangkan buku-buku untuk keperluan pendidikan, Pusat ini juga berupaya berperan serta mendorong perkembangan industri buku nasional dengan melakukan berbagai seminar dan pelatihan yang berkaitan dengan perbukuan, pemasyarakatan minat dan gemar membaca, serta melanjutkan upaya melahirkan Undnag-Undang tentang Sistem Perbukuan Nasional. Akan tetapi dengan alasan reformasi birokrasi, Pusat Perbukuan ini diintegrasikan dengan Pusat Kurikulum menjadi Pusat Kurikulum dan Perbukuan dengan lingkup tugas dan fungsi yang semakin sempit.

Mila Novera (1215101952)
Teknologi Pendidikan UNJ 2010


Sumber :


0 komentar:

Posting Komentar

 

'Spring' Mila Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea